Sebagai komunitas perantau, IKB Ita Esa Bali menyadari tantangan sosial yang dihadapi anggotanya, mulai dari tekanan ekonomi, dinamika kehidupan di daerah tujuan, hingga stigma negatif yang kerap dilekatkan kepada warga NTT. Karena itu, Ita Esa mengambil peran sebagai wadah pembinaan dan pencegahan, bukan pembenaran terhadap perilaku menyimpang.
Prinsip “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” terus ditanamkan kepada seluruh anggota. Setiap individu diingatkan untuk menghormati adat, norma, dan masyarakat setempat, menjaga sikap, serta tidak melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri, keluarga, maupun mencederai nama baik komunitas.
Selama 12 tahun keberadaannya, IKB Ita Esa Bali konsisten menjadi ruang internal yang memperkuat solidaritas, menumbuhkan tanggung jawab, dan mendorong anggotanya menjadi pribadi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar. “Kami tidak mencari sorotan, tidak mengejar pengaruh, dan tidak membangun identitas melalui konflik,” tegas Afrit.
Ia juga menegaskan bahwa setiap tindakan individu yang bertentangan dengan hukum, moral, dan etika bukanlah representasi Ita Esa. Sebaliknya, Ita Esa hadir untuk saling mengingatkan dan membina secara internal agar seluruh anggota tetap berjalan dalam nilai-nilai yang disepakati bersama.
Perayaan Natal tahun ini kian istimewa karena dirangkai dengan sukacita ulang tahun ke-12 IKB Ita Esa Bali. Momentum tersebut menjadi penanda perjalanan panjang organisasi dalam menjaga iman, persaudaraan, dan identitas keluarga besar Ita Esa di Pulau Dewata. “Natal ini menjadi pengingat bahwa sejauh apapun merantau, selalu ada tempat untuk pulang ke kasih, ke iman, dan ke keluarga,” pungkas Bonik. NAN




