De Gadjah: Pentingnya Membangun dan Menjaga Toleransi yang Sudah Ada di Bali

Paslon No. 01
Tokoh masyarakat dan agama di Bali berkumpul, dalam acara bertajuk Harmoni Bali untuk Negeri Foto: BethaNews)

“Acara ini adalah contoh nyata bagaimana perbedaan yang ada di Bali bisa menjadi kesatuan yang indah. Harmoni Bali untuk Negeri adalah simbol toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Kita ingin Bali tetap damai, maju, dan menjadi bagian dari Indonesia Emas 2045,” ungkap De Gadjah.

De Gadjah juga mengingatkan generasi muda, khususnya generasi milenial, untuk terus mengedepankan rasa saling menghormati dan membantu sesama, karena suatu saat mereka akan membutuhkan pertolongan dari orang lain. “Kita satu sebagai manusia ciptaan Tuhan. Kita wajib menolong yang lemah, menghormati yang lebih tua dan menghargai yang lebih muda,” pesannya.

Tokoh agama yang juga hadir dalam acara tersebut, Gus Miftah, turut menyampaikan pandangannya tentang keberagaman Indonesia yang luar biasa. Gus Miftah mengungkapkan bahwa meskipun Indonesia terdiri dari ribuan pulau, adat istiadat, bahasa, dan agama yang berbeda-beda, bangsa ini tetap bersatu dalam naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Bali dikenal hingga ke seluruh dunia. Bahkan, saya membeli tasbih di Mekkah dan ternyata yang membuatnya adalah orang Bali. Ini menunjukkan betapa besar pengaruh Bali di dunia internasional,” ungkap Gus Miftah dengan penuh semangat.

Ia juga memberikan contoh bagaimana negara-negara di Jazirah Arab yang terdiri dari 32 negara dengan satu bahasa, namun tidak pernah bersatu. Sementara Indonesia, dengan ribuan bangsa dan bahasa yang berbeda, bisa tetap bersatu dalam satu negara, yakni Indonesia.

Acara ini juga dihadiri oleh tokoh agama lainnya, seperti Yoseph Yusdi Diaz, Ida Rsi Agung Wayahan Suta Dharma Jaya Giri, Pendeta Mangku Adi, Romo Astika, dan Romo Joseph, yang menyuarakan pentingnya toleransi dan kerukunan antar umat beragama di Bali.

De Gadjah dan para tokoh agama sepakat bahwa Bali harus terus menjadi contoh bagi dunia tentang bagaimana menjaga perdamaian dan toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Toleransi antar umat beragama di Bali telah menjadi kekuatan utama dalam menjaga keharmonisan sosial dan hal ini harus terus dipupuk untuk membangun Bali yang lebih baik ke depannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *