Profil  

Prof. Alex Pangkahila: Seks Bukan yang Utama dan Bukan Segalanya Dalam Kehidupan Suami Istri

Profil
Prof. Alex Pangkahila dan istri (Foto BethaNews)

BethaNews – Seks adalah hal penting dalam kehidupan manusia dan hampir setiap orang melakukannya. Didalam perkawinan, seks bukan yang utama dan bukan segalanya dalam kehidupan suami istri, namun tanpa seks, kehidupan kita tak akan hidup, demikian dikatakan pakar seksolog dan Androlog, Prof. Dr. dr. Jahja Alex Pangkahila, M.Sc, Sp.And.

Mendatangi rumahnya di daerah Sanur, Denpasar, ayah tiga putra ini bersama istrinya, Dorothy, begitu ramah menyambut. Di usia 81 tahun, Alex Pangkahila masih terlihat sangat bugar.  

Angkatan pertama Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Denpasar ini mengatakan, saat ini seks bukanlah hal yang tabu untuk dibicarakan. “Saya pernah ditahan ketika pulang dari Belgia tahun 1978 dan membawa buku – buku yang berkaitan dengan seksologi. Buku – buku itu dianggap buku porno saat itu,” kenangnya yang ketika itu memperdalam ilmu seksologi dan Androgi (S2) di   Universitas Louvain, Belgia.

Doktor dari Universitas Airlangga Surabaya ini mengatakan, tidak sedikit orang yang mengalami masalah seks. Menurutnya, dalam perkawinan, seksualitas mempunyai empat dimensi, yaitu prokreasi, rekreasi, relasi dan komunikasi serta dimensi institusi.

“Untuk mencapai perkawinan yang harmonis dan langgeng, keempat dimensi ini harus dibina suami istri secara bersama-sama,” ungkap Alex Pangkahila yang belajar soal perilaku seksual di La Trobe University, Australia.

Lebih lanjut dijelaskan, prokreasi adalah hubungan suami istri yang bertujuan menghasilkan keturunan, sebagai generasi penerus. Dimensi rekreasi mengandung pengertian kesenangan, yang berhubungan dengan kenikmatan dan kepuasan seksual.

Alex Pangkahila yang menjalani sebagian hidupnya di panti asuhan ini mengatakan, dimensi relasi berarti kehidupan seksual suami istri berfungsi pula sebagai pengikat yang lebih mempererat hubungan pribadi suami istri di dalam suatu institusi yakni perkawinan. “Keempat dimensi ini dapat dicapai bila tidak ada gangguan seksual di pihak suami atau istri,” tegasnya.

Namun, dalam perjalanan perkawinan menurut Alex Pangkahila, pasangan suami istri sering tidak menyadari kalau kehidupan seksual mereka terganggu. Salah satu cirinya, kehidupan seksual mereka menjadi tidak harmonis, yaitu kenikmatan seksual tidak dapat dirasakan bersama, atau hanya dapat dinikmati oleh salah satu pihak saja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *