Profil  

Prof. Alex Pangkahila: Seks Bukan yang Utama dan Bukan Segalanya Dalam Kehidupan Suami Istri

Profil
Prof. Alex Pangkahila dan istri (Foto BethaNews)

Padahal, kehidupan seksual yang tidak harmonis, biasanya akan mempengaruhi kebahagiaan perkawinan. Bahkan, tidak jarang timbul berbagai akibat yang pada akhirnya mengganggu kelangsungan perkawinan, yang tidak diharapkan oleh semua pasangan.

Contohnya, kehidupan seksual tidak harmonis itu, bisa saja mendorong salah satu pihak, suami ataupun istri, untuk terjadinya hubungan seksual dengan orang lain yang bukan pasangannya.

Menurut pakar seksolog ini, salah satu faktor penyebab masalah seksual yang terjadi dalam perkawinan adalah faktor fisik, yang bisa disebabkan penyakit dan bukan penyakit yakni faktor psikologis, faktor ketidakbugaran dan faktor keterampilan.

“Faktor keterampilan perlu digaris bawahi karena jarang orang yang menikah dan hidup dalam suatu perkawinan, sebelumnya belajar dulu tentang keterampilan seksual karena memang tidak ada kursus tentang itu,” paparnya.

Dikatakan, hampir semua pasangan memulainya dari nol. Bahkan, orang dulu berpandangan hubungan seks tidak perlu dipelajari karena bisa berlangsung secara almiah. Padahal, tidak demikian karena hubungan seks itu harus ilmiah untuk mencapai kualitas. Lain kalau hubungan seks hanya untuk sekadarnya saja.

“Intinya, hubungan seks yang berkualitas perlu dipelajari. Awalnya, pelajari ilmunya, setelah menguasai pengetahuan, barulah melatih diri agar terampil. Untuk itulah persoalan seksual diteliti, ditulis menjadi buku, dikembangkan menjadi ilmu, dan melahirkan para ahli serta konsultan keterampilan seks,” jelas Prof. Alex Pangkahila.

Menurutnya, keterampilan seks dibagi tiga, masalah sensual, seksualitas, dan seks itu sendiri. Sensual mencakup 55 persen dari porsi keseluruhan, seksualitas merupakan hubungan yang sudah lebih dalam lagi yang menempati 40 persen dari porsi. Sementara seks, dalam artian memasukkan alat kelamin, hanya 5 persen.

Tetapi yang terjadi, pasangan suami istri lebih sering, mengabaikan 95 persen untuk mengejar yang 5 persen sehingga sering terjadinya kegagalan mencapai hubungan seks yang prima.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *