Hukum  

PENA NTT kecam Arya Wedakarna, Repost Tanpa  Verifikasi,   Fitnah wartawan Kompas.Com

Arya Wedakarna
Ketua PENA,Apollo Daton didampingi Ketua Penasehat PENA NTT Emanuel Dewata Odja serta pengurus PENA NTT (Foto: BethaNews)

“Pejabat publik sekelas AWK seharusnya menjadi contoh bagi publik bagaimana seharusnya bermedia sosial. Ia seharusnya menjunjung tinggi etik, memberikan edukasi kepada publik agar tidak terjadi kesalahan dalam membagikan informasi,” kata Apolo.

Secara terpisah YS, wartawan Kompas.Com menceritakan kronologis kegiatan jurnalistik yang berujung pada framing jahat yang menyerangnya secara pribadi.

Pada Jumat (27/3/2026), pukul 10.00 Wita, YS, wartawan Kompas.Com pergi meliput kegiatan konferensi pers pengungkapan kasus kekerasan seksual di Polda Bali. Kemudian, bahan konferensi pers itu kemudian tulis dengan judul “Sekuriti di Bali Perkosa WN Australia di Kamar Mandi Tempat Hiburan”.

Artikel dan foto konferensi pers ini kemudian dikirim ke Kompas.com lalu edit oleh editor Aloysius Gonsaga AE dan ditayang sekitar pukul 12.12 WIB.

Naskah berita tersebut kemudian terbit di kanal Kompas.Com. https://denpasar.kompas.com/read/2026/03/27/121244078/sekuriti-di-bali-perkosa-wn-australia-di-kamar-mandi-tempat-hiburan

Lalu, pada Sabtu (28/3/2026), sekitar pukul 16.30 Wita, YS kembali melakukan peliputan konferensi pers di Loby Polda Bali.

Pukul 17.13 Wita, dirinya mendapat kabar bahwa akun instagram @kuatbaca mengunggah berita terkait kasus pemerkosaan WN Australia dengan judul dan narasi pemberitaan yang mirip dengan artikel yang tayang di Kompas.com. Dalam postingan @kuatbaca terpampang  foto profil YS yang tertera di website Kompas.com.

Foto tersebut diedit dengan cara dicoret hitam pada bagian mata dan diberi lingkaran oranye. Padahal foto tersebut merupakan profil penulis wartawan Kompas.Com yang dilengkapi dengan profil lengkap YS sebagai wartawan yang bekerja di bawah perusahaan media pers Kompas.Com.

Namun, akun @kuatbaca sengaja mencomot foto tersebut lalu disiarkan secara luas, membingkai seolah-olah YS sebagai pelaku pelecehan seksual. Postingan tersebut pun mendapat komentar bernada bullying dan rasisme dari warga net.

“Setelah melihat dan membaca konten serta komentar warganet, mental saya langsung down dan tidak bisa lagi bekerja. Ini fitnah keji terhadap saya,” kata YS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *