Oleh: Agus Widjajanto*
BethaNews.com – Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menyatakan bahwa tatanan dunia berbasis aturan hukum internasional sudah tidak ada lagi dalam bentuknya yang lama. Pernyataan ini disampaikan dalam Konferensi Keamanan Munich pada Februari 2026. Merz menekankan bahwa kebebasan bangsa-bangsa tidak lagi terjamin di era persaingan kekuatan besar ini.
Kondisi Geopolitik Saat Ini:
– Keretakan Hubungan Transatlantik: Ketegangan antara Eropa dan Amerika Serikat, terutama terkait kebijakan perdagangan dan keamanan.
– Ambisi Nuklir Eropa: Pembicaraan rahasia antara Jerman dan Perancis tentang pembentukan sistem penangkal nuklir bersama.
– Tantangan Geopolitik: Invasi Rusia ke Ukraina dan ambisi Presiden AS Donald Trump untuk menganeksasi Greenland.
Merz menyerukan agar warga Eropa siap melakukan “pengorbanan” untuk mempertahankan kedaulatan mereka. Pernyataan ini menunjukkan kekhawatiran tentang masa depan tatanan dunia dan kebutuhan akan kerja sama internasional yang lebih kuat.
Peran Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memang sedang dipertanyakan efektivitasnya yang nyaris tidak berfungsi , Beberapa kritik menyebutkan bahwa PBB tidak mampu menangani konflik global dengan efektif, seperti kasus Suriah, Myanmar, dan Yaman, penangkapan Nicolas Maduro, dan serangan terhadap Iran oleh Israel dan Amerika Serikat, yang merupakan serangan terhadap kedaulatan negara merdeka, dimana peran PBB sama sekali tidak berfungsi.
Bahwa struktur keanggotaan Dewan Keamanan PBB juga dianggap tidak representatif dan terlalu dipengaruhi oleh negara-negara adidaya dengan hak Veto-nya
Untuk itu perlu Reformasi PBB sangat diperlukan untuk meningkatkan efektivitasnya, termasuk perubahan struktur keanggotaan Dewan Keamanan dan peningkatan transparansi serta akuntabilitas serta meninjau ulang hak Veto terhadap negara negara besar. Dengan demikian, PBB dapat lebih efektif dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional.
Mungkin mulai dipikirkan menata kembali dunia baru dengan membentuk badan baru yang lebih adil dimana mengganti PBB dengan badan baru memang menjadi salah satu opsi yang dibahas oleh para ahli dan pemimpin dunia.






