Opini  

Konflik Israel – Palestina dan Latar Belakang Sejarahnya

Agus W
Agus Widjajanto: Pemerhati Sosial Budaya dan Sejarah Bangsanya (Foto:Dok. BethaNews)

2. Kepentingan ekonomi dan politik: Pembagian wilayah Palestina dapat memicu konflik dan ketidakstabilan di Timur Tengah.

3. Keterlibatan negara-negara besar: Negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Uni Soviet memiliki kepentingan politik dan ekonomi di wilayah tersebut dan dapat mempengaruhi pengambilan keputusan.

Dengan demikian, keputusan PBB untuk mengesahkan Resolusi 181 dapat dianggap sebagai keputusan yang gegabah dan tidak mempertimbangkan hak-hak bangsa Palestina. Hal ini telah memicu konflik Israel-Palestina yang masih berlanjut hingga hari ini.

Bahwa keputusan  mandat dari PBB saat itu disebabkan karena  faktor kepentingan negara besar sebagai pemenang Perang Dunia II, seperti Amerika Serikat dan Uni Soviet, sangat dominan dalam berdirinya negara Israel pada tahun 1948.

Setelah Perang Dunia II, Amerika Serikat dan Uni Soviet menjadi dua negara adidaya yang dominan di dunia. Mereka memiliki kepentingan politik, ekonomi, dan strategis di Timur Tengah, termasuk Palestina.

Amerika Serikat, yang dipimpin oleh Presiden Harry S. Truman, memiliki beberapa alasan untuk mendukung berdirinya negara Israel, antara lain:

1. Lobi Yahudi: Lobi Yahudi di Amerika Serikat memiliki pengaruh besar dalam politik AS dan mendukung berdirinya negara Israel.

2. Kepentingan strategis: Amerika Serikat ingin memiliki basis strategis di Timur Tengah untuk menghadapi Uni Soviet dan mengamankan jalur minyak.

3. Idealisme: Amerika Serikat juga memiliki idealisme untuk mendukung hak-hak bangsa Yahudi setelah Holocaust.

Uni Soviet, yang dipimpin oleh Joseph Stalin, juga memiliki kepentingan dalam berdirinya negara Israel, antara lain: 1. Mengurangi pengaruh Inggris: Uni Soviet ingin mengurangi pengaruh Inggris di Timur Tengah dan menciptakan negara baru yang dapat menjadi sekutu.

2. Menciptakan konflik: Uni Soviet ingin menciptakan konflik di Timur Tengah untuk mengalihkan perhatian Amerika Serikat dan Inggris.

Dengan demikian, faktor kepentingan negara besar sebagai pemenang Perang Dunia II, seperti Amerika Serikat dan Uni Soviet, sangat dominan dalam berdirinya negara Israel pada tahun 1948. Namun, perlu diingat bahwa faktor-faktor lain, seperti lobi Yahudi dan idealisme, juga berperan dalam pengambilan keputusan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *