Opini  

Konflik Israel – Palestina dan Latar Belakang Sejarahnya

Agus W
Agus Widjajanto: Pemerhati Sosial Budaya dan Sejarah Bangsanya (Foto:Dok. BethaNews)

Fakta Sejarah: – Tanah Kanaan (Palestina) telah dihuni oleh berbagai bangsa, termasuk Kanaan, Filistin, dan Israel. Mesir telah menjadi pusat kekuasaan di wilayah tersebut selama ribuan tahun, Yordania dan Irak telah menjadi bagian dari berbagai kekaisaran, termasuk Kekaisaran Babilonia dan Kekaisaran Persia, Turki telah menjadi pusat kekuasaan Kekaisaran Ottoman selama beberapa abad.

Perspektif Hukum Internasional: – Hukum internasional mengakui hak-hak bangsa-bangsa yang telah menduduki suatu wilayah selama ribuan tahun.

– Deklarasi Kemerdekaan Palestina pada tahun 1988 dan pengakuan internasional terhadap Palestina sebagai negara merdeka pada tahun 2012 telah memperkuat hak-hak Palestina atas wilayah tersebut.

Perspektif Sejarah: – Bahwa tanah tersebut telah berdiri kerajaan Mesir dan Kekaisaran Ottoman Turki Usmani , selama ratusan tahun, dan bangsa Persia yang hidup selama ribuan tahun sejak kejayaan Yunani kuno dan Romawi dan Kekaisaran Babilonia yang menguasai wilayah  Irak selama ratusan tahun .

Jadi alur sejarah nya jelas, tidak bisa begitu saja  diambil paksa begitu saja, karena dalam perspektif sejarah tertulis secara runtun dan jelas.

Hal inilah yang mengakibatkan konflik Palestina Israel sulit untuk diselesaikan karena adanya keyakinan berdasarkan Kitab Suci dan situasi kondisi yang sudah berubah dan  yang menibulkankan komplesitas  Namun, perlu diingat bahwa konflik Israel-Palestina merupakan isu yang kompleks dan sensitif, dan tidak ada jawaban yang sederhana  untuk menjawabnya  karena faktir keyakinan agama tadi.

Setidaknya memberikan gambaran pemahaman pada kita semua bahwa konflik Palestina Israel bukan konflik dan perang agama, melainkan konflik wilayah pendudukan yang dijustifikasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa saat itu, sedangkan wilayah tersebut telah diduduki dan didiami bangsa Palestina selama ratusan bahkan ribuan tahun secara turun temurun, agar diri kita lebih bijak dan cerdas dalam menilai situasi.

Jangan mau terprovokasi bahwa masalah kompleksitas ini semata mata kesalahan negara negara besar pemenang Perang Dunia kedua, yang punya kepentingan****

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *